Senin, 23 September 2019









Logo UIN Sunan Ampel Surabaya
















Logo UIN Sunan Ampel Surabaya


"METODE DAKWAH"



Oleh :
Nur Reka Hikmaya R. ( B94219092 )
Risky Aprilia Putri  (B94219094 )
Sandha Rani Vidya N. ( B94219095 )
Kelas : D3
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen l :
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Asisten Dosen ll :
Baiti Rahmawati, S.Sos
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2019


Kata Pengantar

Puji syukur kepada Allah SWT . yang telah member nikmat, kesempatan untuk mengerjakan tugas ini, sholawat dan salam tidak lupa kami panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Terima kasih kepada Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag dan ibu Baiti Rahmawati, S.Kom.I yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengerjakan tugas ini
Saya berharap buku ini bisa memberikan konstribusi yang berarti bagi perkembangan dakwah islam dimasa mendatang, dan mampu memicu pembacanya untuk melakukan dakwah dengan baik.
Surabaya, 23 Agustus 2019


Penulis


Daftar Isi
Kata Pengantar........................................................... i
Daftar Isi...................................................................... ii
BAB I Pembahasan....................................................
A.    Pendekatan Dakwah ........................................ 1
B.     Strategi Dakwah............................................... 5
C.     Metode dan Teknik Dakwah............................ 13
D.    Taktik Dakwah................................................. 19
BAB II Kesimpulan.................................................... 22
Daftar Pustaka............................................................ 23








BAB I
Pembahasan

A.    Pendekatan Dakwah
Pendekatan dakwah adalah titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses dakwah. Umumnya, penentuan pendekatan dakwah,yaitu pendekatan budaya,pendekatan pendidikan,dan pendekatan psikologis. Pendekatan-pendekatan  ini melihat lebih banyak pada kondisi mitra dakwah[1]
Dalam metode pendekatan ilmu dakwah diperlukan  beberapa proses dalam kegiatan dakwah kepada mad’u sebagai objek dakwah[2]. Dengan pendekatan penerima dakwah ( audiens ) akan mudah menjalankan aktivitas dakwah, terutama dalam menjelaskan hal – hal yang berkaitan dengan ajaran islam, baik kepada kelompok anak – anak, remaja,atau kepada orang dewasa sebagai sasaran dakwah.
Beberapa pendekatan dakwah :
a.       Pendekatan dakwah secara sosiologis, menyampaikan dakwah dengan mengetahui kondisi dan situasi di sosial masyarakat sebagai materi sasaran dakwah ,hal ini dianggap penting karena masyarakat sangat lekat dengan adat istiadat, budaya, dan tingkat kesosialan-nya. Diharapkan dengan adanya pendekatan melalui materi dakwah akan membatu situasi kehidupan sosial di masyarakat.
b.      Pendekatan dakwah secara psikologis, menyampaikan dakwah baik secara individual maupun secara kelompok, peneriman materi dakwah akan lebih bisa mengetahui sisi kejiwaan dan psikis indivual maupun kelompok penerima materi dakwah. Dengan demikian seorang pendakwah akan lebih mudah dalam menyampaikan materi dakwahnya.
Banyak lagi contoh pendekatan dakwah yang bisa di tempuh oleh seorang pendakwah, contohnya pendekatan rasulullah terhadap kaum quraisy, dan pendekatan walisongo dalam menyebarkan agama islam ketanah jawa.
Pendekatan budaya seperti sunan kali jaga, konon dirinyalah yang melopori pendekatan populis dan lunak terhadap tradisi masyarakat.Ia menyebarkan islam melalui jalur kesenian dan kebudayaan.[3]Banyak karya seni yang ia ciptakan dan ia tunjukan kepada masyarakat untuk menarik simpati agar maasyarakat dapat menerima ajaran islam secara halus dan perlahan-lahan. Karena pada waktu itu masyarakat jawa masih dipengaruhi oleh ajaran dan kebudayaan hindu-budha.
Walisongo banyak memberikan pendekatan dakwah dengan mmetode yang  berbeda-beda. Tidak hanya kesenian tapi melalui pernikahan juga ada. Dan pendekatan dakwah di era globalisasi seperti ini pada generasi milenial  membutuhkan pendekatan yang sedikit sulit karena kia memerlukan strategi dan taktik yang menarik agar mereka mempunyai rasa simpati.
Pendekatan dakwah tidak hanya melalui ajaran agama atau pengajian, sekarang mulai banyak organisasi dilingkungan sekolah,kampus,masyarakat yang memiliki organisasi yang mengajak kea rah  dakwah juga seperti Remaja Masjid, PMII. Di Indonesia telah muncul organisasi-organisasi dakwah dengan berbagai corak dan identitasnya masing-masing. Organisasi-organisasi tersebut telah berusaha dengan sekuat tenaga melaksanakan fungsinya untuk mengaktualisasikan ajaran islam dalam kehidupan masyarakat. Kepentingan organisasi dakwah ini bukan hanya sekedar penunjang , tetapi cenderung merupakan sarana vital  dalam proses penyelenggaraan dakwah, sebab perkembangan masyarakat yang demikian kompleks  dan plural, dibutuhkan pendekatan cultural untuk dapat mengatasi problem yang timbul dalam masyarakat,terutama dalam menghadapi objek dakwah

B.     Strategi Dakwah
Strategi dakwah merupakan perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan yang dibentuk untuk mencapai tujuan dakwah tertentu, oleh sebab itu sebelum
menentukan strategi perlu merumuskan dengan jelas serta dapat di ukur tingkat keberhasilannya.[4]
Seorang da’i harus mampu menjalankan srategi dakwah dengan baik dan benar, akan mudah mencapai keinginan dalam arti keberhasilan atau efektifitas dakwahnya. Nabi Muhammad SAW, sebagai imam para da’i, telah menerapkan strategi dakwah secara bijak, sehingga melalui beliau Allah memberi manfaat kepada hambanya dan menyelamatkan mereka dari jalan yang sesat munuju yang di ridhoi oleh Allah SWT. Siasat beliau tersebut bermanfaat dalam menyukseskan dakwahnya,membangun negaranya, menguatkan kekuasaannya, dan meninggikan kedudukannya.
Tujuan dakwah dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu tujuan utama ( utama ) dan tujuan khusus (perantara ). Tujuan utama merupakan garis pokok yang menjadi arah semua kegiatan dakwah, yaitu perubahan sikap dan perilaku mitra dakwah sesuai dengan ajaran islam. Tujuan pada setiap tahap itulah yang disebut tujuan perantara.Mitra dakwah yang telah memahami pesan dakwah tidak selalu segera diikuti dengan pengalamannya.
Sepanjang sejarah tidak pernah ada seorang pun pembaharu yang mempunyai pengaruh besar seperti nabi Muhammad SAW.Terkumpul padanya jiwa seorang pemimpin, pendidik yang bijak, kecerdasan akal, semangat yang kuat serta kejujuran[5].
Semua itu terbukti pada diri nabi Muhammad SAW. Misal dari strategi dakwah nabi muhammad ialah berdakwah secara sembunyi – sembunyi kepada keluarga dan kerabat beliau, namun itu tidak mudah karena kelurga dan kerabat nabi tidak mudah percaya dengan dakwah nabi muhammad, setelah itu nabi memperluas dakwahnya kepada para sahabat hingga terbentuklah assabiqunal awwalun.
Masa depan dakwah tergantung pada pengajar dakwah itu dalam menerapkan strategi bagaiman melakukan aktivitas dakwah kepada masyarakat. Adapun untuk menghadapi era dakwah kedepan ada tiga hal utama yang harus dilakukan.
Penerapan strategi dakwah yang sesuai dengan kondisi mad’u sebagai objek dakwah, akan menghasilkan dakwah yang tepat. Yang nantinya akan dengan mudah diterima oleh masyarakat sebagai objek dakwah. [6]
Cara dan strategi untuk berdakwah
1.      Memilih waktu kosong dan memikirkan tema dakwah untuk audiens ( penerima dakwah ), artinya usahakan agar mereka tidak jenuh saat menerima dakwah contohnya, membuat guyonan atau candaan yang tetap bernuansa dakwah agar audiens tidak merasa bosan, juga waktu merasa banya terisi dengan petunjuk, pengajaran, pembelajaran yang bermanfaat, nasehat yang baik.

2.      Jangan memerintahkan sesuatu yang jika tidak dilakukan akan menimbulkan fitnah, artinya terkadang seorang da’i menjumpai sesuatu kaun yang sudah mempunyai tradisi atau adat istiadat yang mapan dan sudah turun temurun. Contohnya tradisi adat jawa yang biasanya mengadakan genduren ( tasyakuran ) dicontohkan oleh walisongo yang memberikan dakwahnya di sela – sela tradisi genduren. Tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat, tetapi jika dilakukan perombakan akan mendatangkan kebaikan.

3.      Menjinakkan hati dengan harta dan kedudukan, artinya seorang da’i ibarat dokter yang meriksa penyakit. Ia mendiagnosis dan mengobati sesuai dengan penyakitnya, jika seorang da’i sadar bahwa iman audiens masih lemah ia dapat memberi harta semampunya agar ia tetap berada dalam jalan yang benar.

4.      Menjinakkan hati dengan memberi maaf ketika dihina, berbuat baik ketika disakiti, bersikap lembut ketika dikasari, dan bersabar ketika didzhalimi, cemoohan dibalas dengan kesabaran, ketergesa – gesaan dibalas dengan kehati – hatian. Contohnya saat kaum quraisy memusuhi nabi muhammad, beliau tidak pernah membalas memusuhi melainkan memperlakukuannya dengan lembut dan seiring berjalnnya waktu kaum quraisy sedikit demi sedikit masuk islam. Dengan cara tersebut, nabi muhammad SAW. Mampu menyatukan hati para sahabat dan orang – orang quraisy yang masuk di islam karna perilaku nabi.mereka bukan hanya mencintai beliau, tetapi juga ikut menjaga dan membela beliau dalam dakwahnya. Itulah cara – cara penting yang dapat menarik audiens lebih mendalami islam dan membuat iman mereka menjadi lebih kokoh.


5.      Pada saat memberi nasihat, jangan menunjukkan langsung kepada orangnya tetapi bicara dengan sasaran umum seperti yang di contohkan kepada rasulallah ketika hendak menegur sahabatnya.orang pendakwah dalam menyampaikan dakwahnya harus bisa memberi nasehat di didalam dakwahnya baik secar perorangan maupun kelompok ( majelis ).

6.      Memberikan sarana yang dapat mengantarkan seseorang pada tujuannya, seorang penda’i memberikan sarana kepada audiens berupa pendapat. Misalnya, seorang audiens bertanya kepada da’i maka seorang da’i wajib menjawab audiens yang bertanya dengan jawaban yang mudah di pahami.

7.      Seorang da’i haris siap menjawab berbagai pertanyaan, saat da’i berdakwah pastilah akan ada audiens yang menanyakan sesuatu kepada pendakwah dan da’i haruslah menjawab pertanyaan dari audiens secar rinci dan jelas agar audiens bisa menerima dan memahami hal yang tanyakan oleh audiens itu.

8.      Memberikan perumpamaan – perumpamaan, seorang da’i dalam menyampaikan dakwahnya harus menggunakan kata – kata indah yang bertujuan tidak membuat audiens merasa bosan yaitu dengan menggunakan kata –kata perumpamaan contohnya “ tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta “ perumpamaan seperti itu merupakan kegemaran remaja, orang da’i harus pintar memakai perumpaan di setiap dakwanya.


Staregi pendakwah ( da’i ) haruslah bisa menyasar kesemua kalangan masyarakat baik dikalangan dewasa maupun dikalangan remaja. kalangan dewasa, contohnya berdakwah di kalangan dewasa bisa melalui tema kehidupan dengan sedikit guyonan. Karena tema tersebut sangat cocok dan sering terjadi kalangan dewasa, dengan demikian dakwah yang disampaikankan mudah dipahami.Dan dikalangan remaja, contohnya berdakwah dikalngan remaja bisa melalui tema tentang percintaan dimasa remaja, kepatuhan terhadap orang tua, menyikapi dunia di era digital, dll. Hal itu akan menarik minat kaum remaja untuk lebih memahami isi materi yang disampaikan oleh pendakwah. jadi, pendakwah haruslah pintar dalam memilih tema yang akan disampaikan dalam berdakwah dan harus bisa mengetahui situsi dalam dakwahnya, Dengan begitu pendakwah akan mudah menyampaikan materi – materi dakwahnya.



C.    Metode dan Teknik Dakwah
Metode berasal dari bahasa yunani methodes, yang merupakan gabungan dari kata meta dan hodos. Meta berarti melalui,mengikuti,atau sesudah, sedangkan hodos sedangkan hodos berarti jalan arah atau cara jadi, metode diaartikan sebagai suatu cara atau jalan yang bisa ditempuh. Sedangkan metode dakwah adalah cara-cara yang dipergunakan oleh seorang da’I untuk menyampaikan materi.[7]
Menurut pemikiran Tarmizi Taher, yang menjadi sasaran utama dalam berdakwah adalah kampus dan barat. Pertama kalangan kampus-kampus ( mahasiswa), mulai dari Nangro Aceh Darussalam ( NAD ) sampai Maluku ( Ambon ).[8]
Metode dakwah dapat dilakukan  dengan cara apa saja dan dengan media apa saja. Pada zaman Rasullullah  metode dakwah dilakukan secara terang-terangan. Dan setelah zaman rasulullah ada walisongo,mereka melakukan metode dakwah dengan cara berbeda-beda, ada yang melalui kesenian,kebudayaan dan melalui perkumpulan seperti pengajian. Dan semakin berkembang pesatnya era globalisasi metode dakwah mulai semakin canggih bisa melalui telivisi,radio,youtube,facebook dan media social lainnya. Sehingga genarasi millennial bisa mengetahui ajaran agama islam tanpa harus datang langsung ke perkumpulan pengajian.Usaha dakwah dimulai oleh Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan para sahabat, tabi’in, sampai pada para da’I Indonesia.[9]
Secara terperinci metode dakwah dalam Al-Qur’an terekam pada surat An-Nahl ayat 125, yaitu: hikmah, mau’idhah, dan mujadallah.


ادْعُإِلَىٰسَبِيلِرَبِّكَبِالْحِكْمَةِوَالْمَوْعِظَةِالْحَسَنَةِۖوَجَادِلْهُمْبِالَّتِيهِيَأَحْسَنُۚإِنَّرَبَّكَهُوَأَعْلَمُبِمَنْضَلَّعَنْسَبِيلِهِۖوَهُوَأَعْلَمُبِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari ejalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
a)      Hikmah, yaitu berdakwah dengan menitik beratkan pada kemampuan mereka yang menjadi obyek dakwah. Dibagi menjadi 3 yaitu: unsur ilmu, unsur jiwa, unsur amal perbuatan.[10]

b)      Mau’idhah, yaitu berdakwah dengan memberikan nasihat-nasihat atau menyampaikan ajaran-ajaran islam selanjutnya
c)      Mujadalah, yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran atau membantah dengan cara yang sebaik-baiknya dengan tidak memberikan tekanan-tekanan dan tidak pula dengan menjelekan orang[11]

Dalam proses berdakwah, seorang pendakwah dituntut untuk mampu memahamkan umat ( audiens ) agar bisa menaati perintah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, agar materi dakwah di pahami dan menyentuh hati umat ( audiens ), pendakwah perlu menyiapkan teknik – teknik khusus dalam proses dakwahnya.Dalam dakwah islam sering terjadi pemahaman yang salah dikarenakan metode dakwah salah. Dan nantinya akan mengakibatkan kontra dan konflik sesama umat yang akan memecakan islam, dengan demikian teknik dakwah sangatlah penting bagi para pendakwah.

Dalam teknik dakwah terdapat beberapa persiapan sebelum menyampaikan materi dakwah yaitu,
a)      Persiapan mental, artinya seorang pendakwah harus bisa mengontrol dan menyiapkan dirinya sendiri untuk berdiri, berbicara di depan banyak orang. Karena dalam meyampaikan materi dakwah, pendakwah akan menjadi pusat perhatian dari audiens. Jika seorang pendakwah tidak memiliki persiapan mental yang kuat, maka ia akan mengalami ketidakpercayaan diri ( nervous ). Dan itu akan membuat materi dakwah tidak tersampaikan maksimal kepada penerima materi dakwah ( audiens ). Oleh sebab itu, persiapan mental seorang pendakwah sangatlah pentig dalam menyukseskan dakwahnya.

b)      Persiapan materi dakwah, artinya seorang pendakwah harus mempersiapkan materi ( isi dakwah ) sebelum dakwah di mulai. Jika pendakwah tidak mempersiapkan materi dakwah dengan baik, proses dakwah akan kacau, ika haya kesiapan mental saja tanpa memikirkan isi dakwahnya, proses dakwah tidak akan berjalan dengan baik. Pendakwah akan merasa kebingung jika tanpa isi dakwah, bahkan akan membuat audiens merasa bosan karena penyampaiannya yang kurang.
Suatu ceramah haruslah didahului dengan persiapan – persiapan yang cukup.[12]
Seorang pendakwah harus mempunyai kesiapan dan persiapan yang cukup dalam dakwahnya, hanya orang yang tidak bijaksana yang berdakwah tanpa pesiapan. Biasanya semakin cerdas orang tersebut berdakwah, maka orang tersebut akan menggap dirinya bisa tanpa menggunakan persiapan dam berdakwah. Hal ini mengandung unsur kepercayaan diri yang sangat tinggi sehingga menjadi pendakwah yang sombong, dan ini termasuk dalam sisi negatif teknik persiapan dakwah.
D.    Taktik Dakwah
            Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Taktik sifatnya individual. Masing – masing pendakwah memiliki taktik yang berbeda dalam menggunakan teknik yang sama. Setiap pendakwah yang menjalankan kegiatan dakwah masing – masing memiliki pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik yang berbeda satu sama yang lain.[13]
Seperti yang dijelaskan pada Q.S. Al –Imron Ayat 110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
            Secara general, Al – Qur’an sering mengutarakan beberapa taktik yang dikotomis. Taktik menggembirakan (tabsyir) berbanding dengan taktik menakut – nakuti (tandzir).Memerintahkan kebaikan kearifan lokal (al - amr bi al – ma’ruf) berbanding dengan mencegah keburukan kearifan lokal (al – nahy’an al – mungkar).Taktik kebebasan manusia (Qadariyah) berbanding dengan keterikatan manusia (jabariyah) –meminjam istilah teologis.Taktik tegas (qaul sadid) berbanding dengan taktik lunak (qaul layyin).
Contohnya seperti dakwah islamiyah di Indonesia berlangsung secara damai tidak dengan cara kekerasan yaitu:
1)      Perdagangan : penggunaan saluran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena pada abad ke 7 M banyak melibatkan golongan raja dan bangsawan, bahkan mereka adalah pemilik kapal-kapal dan saham-saham.
2)      Perkawinan : perkawinan merupakan salah satu dari saluran islamisasi yang paling mudah, karena perkawinan merupakan ikatan lahir batin dan tempat mencari dan tempat mencari kedamaian anatara suami dan istri.[14]
Seperti Rasulullah SAW meletakkan sebaik-baik asas bagi sebuah masyarakat islam di madinah yang terkenal dalam sejarah. Asas- asas tersebut dapat juga diartikan sebagai taktik dakwah rasullah untuk mengetahui seberapa dalam umatnya menerima islam seperti: medirikan masjid, mempersaudarakan muhajirin dan anshar, membentuk piagam madinah, meletakkan dasar-dasar politik,ekonomi, dan sosial.[15]




BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Seorang pendakwah dalam menarik kesimpulan  metode dakwah bahwah, dakwah memiliki aturan yang  sistematis. Didalam ilmu dakwah terutama di metode dakwah memiliki beberapa teori penting seperti pengertian sebuah metode dakwah, teori pendekatan dakwah, strategi dan teknik  dakwah, dan taktik didalam dakwah. Dengan begitu seorang pendakwh akan lebih memahami sebuah metode dalam berdakwah yang baik dan benar sehingga penerima materi dakwah akan lebih mendalami islam.





DAFTAR PUSTAKA


Ali Aziz, Moh. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana. 2017
Amin, Samsul Munir. Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah. 2009.
An-Nabiry, Fathul Bahri, Meniti Jalan Dakwah. Jakarta: Sinar Grafika Offset. 2008.
Badruttaman, Nurul. Dakwah Kolaboratif. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu. 2005.
Bisri, Hasan. Ilmu Dakwah. Surabaya: Revka Petra Media. 2013.
Hadinata, Yudi. Sunan Kalijaga. Yogyakarta: Wardi. 2015.
Hamidi.Teori Komunikasi Dan Strategi Dakwah. Malang: Umm Press. 2010.
Ismail, Ilyas. Filsafat Dakwah. Jakarta: Kharisma Putra Utama. 2011.
Mukarrom, Akhwan, Pengantar Studi Islam, Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press. 2004
Munir, Muhammad.Manajeman Dakwah. Jakarta: Kharisma Putra Utama. 2006.
Ridla, M. Rosyid, Pengantar Ilmu Dakwah. Yogyakarta: Samudra Biru. 2017.
Saerozi, Sejarah Kebudayaan Islam. Sidoarjo: Al maktabah. 2010.
Thoifah, I’anatut. Manajemen Dakwah. Malang: Madani Press. 2015.
Widjaja, Komunikasi, Jakarta: PT Bumi Aksara. 2010
Yunus, Ahmad Redzuwan Mohd, Sejarah Dakwah. Kuala Lumpur: Sanon Printing. 2001.



[1]Moh.Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana,  2017),  h. 297.
[2]Hamidi, Teori Komunikasi Dan Strategi Dakwah, Cet 1(Malang: Umm Press, 2010, h.
[3] Yudi Hadinata, Sunan Kalijaga, Cet 5 (Jogjakarta: Dipta, 2015) h. 85.
[4]Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6, ( Jakarta: Kencana,  2004), h. 299.
[5] Hamidi, Teori Komunikasi Dan Strategi Dakwah, (Malang:  ,  2010), h. 127
[6] Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah , 2009), h. 110.
[7]I’anatut Thoifah, Manajemen Dakwah, ( Malang: Madani Press, 2015), h. 49.
[8] Tarmizi Taher, Dakwah Kolaboratif, Cet 5 ( Jakarta:  Grafindo Khazanah Ilmu, 2005), h. 108
[9] M. Rosyid Ridla, Pengantar Ilmu Dakwah, Cet 1, (Yogyakarta: Samudra Biru, 2017), h. 21.
[10]Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti Jalan Dakwah, Cet 1,(Jakarta: Sinar Grafika, 2008), h. 240.
[11] Hasan Bisri, Ilmu Dakwah, Cet 1, ( Surabaya: PT.Revka Petra Media, 2013), h. 58.
[12]Moh. Ali, Ilmu Dakwah, Cet 6, (Jakarta:  Kencana, 2004), h.309.

[13]Moh. Ali. Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6, ( Jakarta: Kencana, 2004), h. 328
[14] Saerozi, Sejarah Kebudayaan Islam, ( Sidoarjo: Al maktabah), h. 3.
[15] Ahmad Redzuwan Mohd Yunus, Sejarah Dakwah, Cet 1( Kuala Lumpur: Sanon Printing, 2001), hh. 8-9.